Showing posts with label fanfic. Show all posts
Showing posts with label fanfic. Show all posts

[FIC] Deuxiemme

Hei! I'm here again *halah sok inggris lu mir*
Sekarang aku mau ngepos fanfic lagi~ Ini sekuelnya "D' Adieu" hahaha..
Banyak yang request sekuelnya jadi aku bikin deh.. Sebenarnya bikinnya udah lama, tapi baru dipublikasikan di blog ini sekarang hahaha. So, happy reading~

=========

Author : miramince
Title : Deuxiemme
Genre : Angst-Drama
Rating : T
Cast : Cho Kyu Hyun, Kim Hye Rin, Lee Dong Hae
Note : This is the sequel of D’Adieu






Panas.

Hari ini tanggal 5 Juli, musim panas sudah datang. Orang-orang sudah mengganti bahan pakaian mereka dengan bahan yang lebih tipis dan lebih ringan. Anak-anak tingkat SMP dan SMA sudah mulai merencanakan liburan musim panas mereka—padahal ujian saja belum. Tempat-tempat rekreasi juga mulai ramai dibooking.

Hanya aku saja yang duduk sendirian disini. Di rumah sakit. Sendirian, dalam kegelapan.

Aku tak mau pulang. Aku lebih suka diam disini, di rumah sakit. Di rumah pastilah aku tidak bisa keluar kamar karena orang tuaku yang over-protective. Pih, apakah mereka tidak sadar usia?

“Hyun, ma bro!”

Aku masih belum peka dengan keempat indraku yang masih tersisa, jadi aku berusaha keras mengenali suara siapa itu, dan dari arah mana datangnya. Ah, aku jadi membayangkan Hye Rin. Dia sudah pulang sejak tanggal 15 Maret, sehari setelah perbannya dibuka. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Hye Rin pasti sangat peka dengan keempat indra selain pengelihatannya. 20 tahun terbelenggu dalam kegelapan, apakah tidak takut terjadi apa-apa?

“Siapa?” kepalaku terus mencari sumber suara itu. Rasanya ada yang merangkul pundakku. Hangat rasanya. Akhirnya ada yang memelukku selain suster. Tapi tetap saja, aku masih tidak bisa mengenali tangan hangat yang merangkulku ini.

“Hyun, ini Donghae!”

Ah! Lee Donghae! Sahabatku, yang sudah 6 tahun tidak bertemu. Donghae pergi mencari ilmu ke Jerman. Katanya sih, dia masuk jurusan arsitektur. Tapi aku tidak percaya, karena Donghae tidak pernah mendapat nilai bagus dalam pelajaran matematika. Aku lebih percaya kalau Donghae masuk universitas music atau apalah yang termasuk dalam dunia seni. Wajahnya lebih mendukung.

Donghae tidak tahu masalahku dengan Hye Rin, karena saat aku mengenal Hye Rin, Donghae sudah pergi. Ah, ingin sekali aku menceritakan semuanya kepada Donghae. Tapi hatiku.. Rasanya terlalu sakit jika mengingat kembali bagaimana Hye Rin mengataiku waktu itu.

“..PEMBUAL!! MENJIJIKKAN..!!!!..”

“Hyun, aku tadi ke rumahmu. Ayahmu bilang kau sekarang tinggal disini.” Donghae mulai berbicara, “Kenapa kau bisa jadi buta seperti ini, Hyun?”

Tangan Donghae masih merangkul bahuku. Aku mulai bingung. Aku tak mungkin bercerita kalau aku memberikan mataku untuk Hye Rin. Aku malas bercerita dari awal. Aku lebih tidak ingin kalau nanti Donghae berkata aku bodoh, aku adalah pria terbodoh yang mau saja memberikan indra penting dalam hidupku kepada seorang wanita yang akhirnya mencampakanku. Aku tidak ingin nanti Donghae berkata aku jahat tidak bercerita apapun tentang Hye Rin kepadanya.

“Ummh.. Aku kecelakaan, Hae.” Jawabku singkat. Aku sudah tak bisa mencari alasan yang lebih bagus dari itu. Kecelakaan. Semua bisa terjadi saat kecelakaan, kan? Tulang patah, rahang bergeser..

“Ohh.. Sabar ya, Hyun.. Kalau begitu aku akan setiap hari datang kesini supaya kau tidak bosan. Bagaimana?” Donghae menepuk-nepuk bahuku. Aku yang terdiam dalam kegelapan mulai tersenyum senang. Akhirnya aku bisa berbicara kepada orang lain selain ikan goldfish peliharaanku. Namanya Goldy. Goldy selalu jadi tempat curahan hatiku. Tapi besok tidak lagi. Sudah ada Donghae.

“Nah. Kau lebih baik tersenyum. Jangan murung terus. Sudah buta, pemurung, tambah jelek.” Donghae berkata sambil tertawa kecil. Sebelum aku bisa membalasnya, Donghae sudah pergi.



Aku sendirian lagi. Tapi kesendirian kali ini, tidak membuatku kesepian.



*

**

“KYU HYUUUUUUUUUN!!!”

“HUAAAA!!!” aku kaget karena tiba-tiba ada yang memukul keras punggungku dan berteriak memanggil namaku. Lee Donghae. Aku meringis sambil mencari-cari dimana dia. Gelap. Kegelapan ini belum bisa membuatku terbiasa.

“Hyun! Aku bertemu gadis yang pasti akan menjadi jodohku!” Hae duduk disampingku—ternyata. Kupasang telingaku baik-baik. Donghae jarang sekali bercerita tentang seorang gadis ketika aku mengenalnya. Satu-satunya gadis yang paling sering dia bicarakan adalah ibunya.

“Kau harus melihatnya—“ Donghae terhenti. Melihatnya... Donghae pasti terhenti karena kata itu. Ahh. Ternyata rasanya sakit kalau seperti ini. Aku tak mau orang lain melihat aku buta. Aku ingin semua orang berkata Lihat dan Lihat di depanku.

“Aku ingin melihatnya, Donghae. Nanti kau bawa kesini, ya?” aku berkata dengan senyum kepadanya. Donghae terdiam. Sepertinya tak percaya kalau aku berkata kalau aku ingin melihat gadis itu. Tapi aku tahu sekarang kalau Donghae pasti sedang tersenyum. Feeling.

“Oke! Mumpung aku sudah minta nomor handphonenya.. HAHAHA..”
“EH?!! SECEPAT ITU?!!”

“Kau seperti tidak tahu aku saja, Hyun!” Donghae tertawa lagi. Kami tertawa bersama. Dibalik tawaku, aku merasakan sesuatu yang aneh. Aneh, tapi familiar.

Ahh.

Tertawa saja dahulu.


*

**

***


“Hyun! Hyun!”

Ah, suara itu lagi. Sudah kudengar suara senang itu sejak dua minggu yang lalu, selalu pada jam yang sama, yaitu sore hari. Yah, jam-jam dimana seharusnya aku masih terlelap karena kurang kerjaan. Donghae. Pasti mau menceritakan tentang gadis yang ditemuinya, dan dijanjikannya akan dibawa kesini.

“Kau pasti kaget, Hyun!” Donghae mengguncang-guncang badanku dengan bersemangat. Nafasnya masih belum teratur. Dia pasti berlari kesini dan langsung saja membangunkan aku. Dasar gila. Ah, seperti apa sih perempuan itu? Aku semakin penasaran saja.

“Hyun, kan aku dan gadis itu sudah semakin dekat.. Tadi kuajak jalan berdua ke Coffee Bean, kafe kopi yang ada di ujung jalan rumah sakit ini lho.. Lalu kami mengobrol-ngobrol banyak dan bercanda-canda.. Aku merasa aku sedang bersama denganmu lho, Hyun.. Entah mengapa. Aku merasa sangaaaat nyaman ketika bersama gadis itu.” Donghae menceritakan apa saja yang dilakukannya tadi dengan gadis itu dengan panjang lebar. Aku nyaris tertidur lagi karena bosan menunggu dia berhenti berbicara.

“Ya, apalagi, Dong Hae?” aku menanggapinya dengan malas—aku memang tidak berniat untuk dijadikan tempat curahan hati hari ini.

“Lalu ketika kutanya maukah dia menjadi pacarku.. Dia mau!! DIA MAU, HYUUUUN!!!” Donghae semakin gencar mengguncang-guncang badanku. Bahkan dia meremas-remas bahuku, menjambak-jambak rambutku, dan lain-lain sebagainya. Aku dengan pasrah menerima apapun yang akan dia lakukan kepadaku karena aku tidak tahu dia mau melakukan apa kepadaku.

“Uhuk, uhuk! Le..pas..kan Hae!” aku meringis kesakitan, “Yah, kalau begitu, kapan kau ajak gadis itu kesini? Aku penasaran, Hae! Kau terus bercerita, sedangkan aku kan tak tahu siapa gadis itu..”

“Oke oke, Hyun!! Tenang saja.. Aku akan membawa gadis itu kesini.. Hahahah! Ya sudah kalau begitu ya, aku mau pulang!” Hae menepuk pipiku dengan gemas. Hiah. Dasar sedang kasmaran. Aku hanya tersenyum kecil mendengar derap kaki sahabatku.

Donghae. Lee Donghae. Punya pacar. Kenapa aku merasa ditinggalkan, ya? Perasaan ini sama ketika Hye Rin mencampakkanku waktu itu.

*

**

**



Aku sendirian lagi di rumah sakit ini. Donghae sudah lama tidak kesini. Menelpon pun tidak pernah, karena suster-suster yang merawatku tidak pernah menyampaikan pesan atas nama Donghae kepadaku. Apakah Donghae terlalu sibuk dengan pacarnya?

Sendiri.

Rasanya dingin. Padahal cuaca panas diluar sana. Apakah aku ditakdirkan untuk sendirian terus seumur hidupku? Setelah menghadapi kenyataan bahwa aku adalah anak tunggal keluargaku, lalu aku selalu dibully disekolah sehingga tidak punya teman—hanya Donghae yang mau menemaniku waktu itu, dicampakkan pacar yang sudah susah-susah kuselamatkan masa depannya dengan memberikan mataku kepadanya, lalu sekarang?

“EAAAAAAAAAAAAARGGGHH!!!” aku berteriak frustasi. Aku menggunakan kedua tanganku untuk mengekspresikan kekesalanku. Kupukul kasur, kulempar semua benda yang kusentuh, kuacak-acak rambutku.

Siapa yang mau menemaniku? Siapa yang sudi mencintaiku? Aku buta. Aku tidak pintar. Aku tidak kaya. Aku.....

Air mataku mengalir membentuk sungai di pipiku. Nafasku tersengal-sengal. Hidungku memerah. Aku berharap seiring dengan banyaknya air mata yang mengalir keluar dari kelopak mataku, aku akan bisa melihat. Aku tidak ingin merasa menyesal telah mendonorkan mataku kepada Kim Hye Rin. Aku berusaha untuk tidak menyesal.

Tapi..

Kenapa hatiku terasa sakit sekarang? Kenapa sepertinya ada rasa benci yang menjalar di tubuhku setiap kuingat nama Kim Hye Rin?

Donghae.. Kemarilah sekarang.. Aku membutuhkanmu........










*

**



“Cho Kyu Hyun, ada yang menjengukmu!” suster yang kutahu bernama Min Rin Ni, memberitahu kalau ada orang yang menjengukku. Aku tidak perduli. Paling itu Ayah, atau Ibu. Atau mungkin penjenguk yang nyasar dan mau menjenguk Cho Kyu Hyun lain selain diriku. Sudah sebulan tidak ada yang menjengukku.

“Yo, Hyun!”


Suara itu lagi. Nada bicara itu lagi. Lee Donghae. Mau apa dia kesini? Mau becerita kalau dia diputuskan oleh pacarnya? Atau mau bercerita tentang mengapa dia tidak datang selama satu bulan setelah dia berjanji akan menjengukku setiap hari?

“Aku bawa pacarku lho.. Kenapa kau malah cemberut seperti itu? Jelek, tahu!” Donghae menepuk-nepuk pipiku lagi. Aku tetap bergeming. Donghae tertawa melihatku dan lalu memanggil nama yang sangat familiar.


“Kim Hye Rin!”


“Annyeonghase..” suara gadis itu terhenti. Suara itu. Suara cempreng yang menyejukkan hatiku. Kim Hye Rin. Kim Hye Rin-ku yang mencampakkanku. Dia adalah pacar sahabatku.

Aku beranjak bangun. Aku lalu berlari ke arah Hye Rin. Entah mengapa aku serasa bisa melihat sosok Hye Rin hanya dengan mendengar suaranya saja. Aku tak peduli ketika aku menabrak Donghae dan dia berteriak-teriak padaku. Aku hanya ingin memeluk Hye Rin. Aku hanya ingin menyentuh rambut halusnya lagi. Aku ingin mencium wangi parfumnya, aku ingin membelai pipinya lagi. Aku ingin saat-saat indah yang dulu kulalui bersama dengan Hye Rin kumiliki lagi sekarang.


“Hyun..?” suara Hye Rin terdengar sangat pelan. Mungkin dia tidak mau Dong Hae mendengarnya. Aku tak perduli mau Dong Hae mendengarnya atau tidak. Aku tetap tidak mau melepas tanganku yang memeluk Hye Rin dengan erat.

“HYUN! APA-APAAN KAU?? LEPASKAN!!” Dong Hae menarikku dengan kuat sampai aku terpelanting kebelakang. Setelah itu lalu Hae melemparku dengan membabi buta. Punggungku terbentur tembok dengan keras. Aku lalu jatuh tersungkur.

“Rin! Kau kenal dengan bedebah itu??”

Hae? Apakah aku tidak salah dengar? Kau menyebutku—bedebah? Sahabatmu ini bedebah, Hae? Setelah dia memeluk kekasihmu—yang asal kau tahu, adalah mantan kekasih..

“Tidak.”


Apalagi ini? Apa? Rin? Rin? Kenapa kau tega berkata kalau kau tidak mengenalku? Kau pikir siapa yang memberimu mata itu?

“Rin.. Hye—Rin.. –Rin..” aku memanggil-manggil namanya sambil menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba saja aku merasa aku sesak. Jelas saja. Aku tadi ditendang oleh Dong Hae.

“Kenapa kau memeluk Hye Rin??? Kau kan tahu dia kekasihku!! Aku tak pernah rela ada orang lain menyentuh milikku, kau tahu itu kan, Hyun?!! Rin, ayo kita pergi!” Hae (sepertinya) menarik Hye Rin keluar dan meninggalkan aku yang tersungkur setelah terbentur tembok.


Ah. Dicampakkan lagi.

“GYAA! Cho Kyu Hyun!! Kau kenapa??!!!” Suster Min Rin Ni berteriak histeris tak lama setelah Dong Hae dan Hye Rin pergi. Dokter datang, dan langsung menggendongku ke atas kasur. Aku tetap diam. Aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa saat ini. Aku merasa tidak ada artinya lagi aku hidup.

“Suster.. Bisa aku pergi jalan-jalan? Aku tak apa-apa kok..” aku merajuk kepada Suster Min Rin Ni. Tapi apapun jawaban dari suster itu, aku tetap saja akan pergi. Tak peduli apapun, tak peduli apakah aku tidak bisa melihat, aku tidak tahu jalan, aku tidak tahu ini itu.

Aku hanya ingin keluar dari sini!!!!

“Iya. Kau bo... HEY!! CHO KYU HYUN!!!” suster itu histeris lagi karena aku sudah berlari keluar. Aku terus berlari lurus lurus dan lurus. Terkadang aku menabrak kursi sampai jatuh, terkadang aku menabrak orang, atau terbentur tembok.

Aku tak peduli sakitnya. Aku sudah merasakan yang lebih sakit. Dong Hae dan Hye Rin mencampakkanku. Kedua orang yang penting untuk hidupku. Sekarang malah berpura-pura seakan-akan mereka tidak pernah mengenalku.


“HENTIKAN ORANG ITU!! HENTIKAN DIAA!!!”


“CHO..—“

Suara histeris terakhir suster Min Rin Ni terdengar seiring dengan suara truk yang membentur tubuhku dengan kuat.

Aku merasa melayang sekarang. Aku merasa lebih ringan. Aku merasa sepi. Meskipun aku merasa orang-orang berkerumun disekitarku, berteriak “Oh tidak lihat darahnya!!!” “Bukankah orang itu buta??!!” “Ya Tuhan!!” “Cepat bawa dia masuk lagi ke rumah sakit!!!”. Hembusan terakhir nafasku telah mengubur semuanya.

Semoga kalian berbahagia, Dong Hae, Hye Rin. Aku sudah tiada, jadi kalian tidak perlu berpura-pura tidak kenal aku ketika nanti aku bertemu kalian.

Jaga mataku Hye Rin, dan untukmu Dong Hae, jagalah orang yang paling kucintai.

==fin==

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

comments are loved always muahmuah hahaha

[FIC] D'Adieu

Author : miramince
Title : D’Adieu
Genre : Angst Romance
Rating : T
Cast : Cho Kyu Hyun, Kim Hye Rin [FIC]
Disclaimer : I don't own Cho Kyuhyun nor SM Ent., but i do own Kim Hye Rin. 
Note : Title jangan dipermasalahkan, itu gaada hubungannya. Terus, jalan cerita fanfic ini diilhami dari cerita temen di sekolah, jadi kalau ada yang tahu cerita ini maaf yaa.. Selain itu juga, nama Rin Hye itu aku ngasal kuadrat, aku nggak tahu nama cewek korea itu kayak gimana jadi kalau aneh maaf lagi yaa!!!! Dx

===******


“Rin!”

Suara itu terdengar lagi. Suara yang menghangatkan tubuhku yang dingin selama 6 tahun pas. Suara yang selalu menemaniku dikala aku sendirian. Suara yang menyucikan diriku yang hina di mata orang-orang sekitarku.

“Lihat aku! Lihat aku!”

Cho Kyu Hyun menyuruhku untuk melihatnya. Aku menatap kosong. Lalu menggeleng. Terdengar suara Kyuhyun tertawa. Suara tertawanya mengajakku untuk ikut tertawa bersamanya. Selama sekitar dua menit hanya suara tawa kamilah yang terdengar di sekitar taman tersebut.

“Maaf Rincha, aku lupa..”
“Haha, harusnya aku yang meminta maaf, oppa.. Aku tak bisa melihatmu.. Aku buta, remember?”

Aku tersenyum, niatnya ke arah Kyuhyun. Tapi aku tak tahu Kyuhyun ada dimana. Aku mendengar ada yang mendekat kepadaku. Angin kecil menerpa wajahku. Kyuhyun membelai wajahku dengan gerakan yang biasa. Lambaiannya membuatku tersenyum. Sudah beratus-ratus kali Hyun membelai wajahku dengan cara yang sama—dan aku tetap saja tersenyum dibuatnya. Tangan lembut itu, berbeda. Dengan cara itulah aku bisa membedakan yang mana Kyuhyun-ku dan yang mana orang lain.

“Tadi aku berseluncur di kotak pasir!” suara kekanakkannya yang khas membuatku tersenyum—kali ini lebih lebar. Hyun memang selalu membuatku tersenyum berpuluh-puluh kali. Dan selama hidupku hanya Hyun-lah yang membuatku tersenyum—meskipun senyum itu tipis setipis benang. Aku tak pernah kenal orang lain selain Hyun, orang-orang disekitarku selalu menjauhiku karena aku buta.

“Memangnya bisa berseluncur di kotak pasir?” aku bertanya ringan kepadanya. Bibirku masih menunggingkan senyum. Kyuhyun terdengar mengeluarkan sesuatu.

“Aku kan pakai ini, Rin!” Hyun menunjukkan sesuatu ke arahku. Satu tangan Hyun menggenggam tanganku dan mengajak tanganku meraba benda yang ditunjukkannya padaku. Tuhan memberikanku indra peraba yang sangat peka, jadi sekali raba pasti aku tahu benda itu apa. Papan kayu licin. Yah, dasar Hyun. Sifat kekanakkannya tidak pernah berubah sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

“Hahaha..”
“Hahahahahaha!!!”

Kami tertawa lagi beberapa detik. Lalu kesunyian menguasai kami. Hari mulai dingin di taman. Cukup jelas, karena sekarang tanggal 3 Februari.

“Hyun..” aku menyandarkan kepalaku di bahu Kyuhyun, tentu saja setelah merabanya terlebih dahulu. Kyuhyun membiarkanku bersandar padanya. “Apa, Rin?” Kyuhyun bertanya.

“Kalau nanti aku bisa melihat, aku akan menikah denganmu..”

Hyun diam. Aku merasa wajahku memanas karena berdebar-debar. Baru kali ini kalimat itu terucap dari bibirku. Kami berdua tidak pernah berpikiran sampai menikah meskipun kami sudah berpacaran selama 5 ½ tahun, minus 6 bulan perkenalan sejak 6 tahun kami bertemu. Entah mengapa kalimat itu langsung saja meluncur dari bibirku.

“Janjikah kau, Hye Rin? Janjikah kau? Meskipun nanti aku tidak seperti yang kau harapkan?” tanya Kyuhyun, suaranya benar-benar berbeda dari biasanya. Suaranya yang kekanak-kanakkan kini sedikit dewasa, dan bergetar. Seakan-akan berada diantara ketidak percayaan dan rasa ingin tahu yang besar.

“Un, janji!” aku mengangguk, dan mengacungkan jari kelingkingku. Aku menunggu jari kelingking Hyun untuk balas melingkari jari kelingkingku sambil tersenyum janji padaku. Cukup lama sampai akhirnya Cho Kyuhyun membalas jari kelingkingku. Kami tertawa lagi.

Pertanyaannya adalah, kapankah aku akan mendapat donor mata?

**


“Rin! Hyerin!!”

Suara derap kaki terdengar seiring dengan teriakan Kyuhyun yang memanggilku dengan buru-buru. Hari ini tanggal 10, untuk apa Hyun mencariku? Tidak ada jadwal terapi mata untuk usaha menyembuhkan kebutaanku hari ini? Hari ini juga bukan saatnya untuk menemani Hyun belajar di perpustakaan kota?

Lalu untuk apa?


“Kim Hye Rin!!!!” Kyuhyun memelukku dengan erat. Satu tangannya di kepalaku, dan satunya lagi di punggungku. Detak jantungnya berderap keras. Dadanya naik turun, nafasnya belum teratur. Aku menunggu Hyun berbicara sambil menurunkan tingkat penasaranku. Apa yang membuat Kyuhyun sangat bersemangat?

“Rin, kau akan mendapat donor mata!” Hyun akhirnya memberitahu apa yang membuatnya sangat senang. Aku membuat mataku membulat lebar meskipun tetap saja aku tidak bisa melihat wajah senang Cho Kyu Hyun, pacarku, temanku, orang nomor satu dalam hidupku. Aku tak percaya, setelah 20 tahun aku hidup akhirnya ada yang rela memberikan matanya untuk membuatku bisa melihat lagi.

“Ka—pan operasi donor matanya?” suaraku masih bergetar karena tidak percaya dan senang. Tangan Kyuhyun terasa meremas tanganku dengan lembut. 

“14 Februari. 4 hari lagi. Kau siap kan, Rin?” Kyuhyun menjawab. Aku tak dapat percaya. 14 Februari kan Valentine. Oh my God, terpujilah wahai kau yang mendonorkan matanya untukku! Terimakasih karena kau telah memberikan kado Valentine yang sangat berarti! Aku tak akan pernah merusak mata pemberianmu itu!

“Siap!” aku mengangguk singkat dengan bersemangat. Sedetik kemudian, aku merasa ada yang menempel di bibirku. Yeah, Hyun menciumku, apa lagi? Aku membalas ciumannya, tanda senang dan bahagia, karena nanti akhirnya aku bisa menikah dengan Kyuhyun, seperti janjiku seminggu yang lalu.

**

14 Februari


“Hyun, aku takut..”
“Sudah, tenang saja..”

Aku memeluk Kyuhyun terakhir kalinya sebelum aku operasi mata. Kyuhyun juga balas memelukku untuk menenangkanku. Ketika berpelukkan, aku mendengan suara deru jantung Kyuhyun, sama berdebarnya denganku. Setelah beberapa detik, aku melepas pelukanku, melambai ke arah Kyuhyun, dan masuk ke kamar operasi.

Dokter bilang aku akan dibius, jadi aku tidak akan merasa apa-apa. Tapi tetap saja aku takut. Aku tidak takut operasi ini akan gagal. Aku takut akan Kyuhyun.

Aku takut jika nanti aku bisa melihat..
Aku takut..
Jika nanti..

Hyun..

**


“Rin?”
“—Rin?”
“Kim Hye Rin—bangun..”

Suara lembut itu lagi. Cho Kyuhyun.

“Hyun..” aku memanggil namanya. Semua masih gelap. Aku berusaha mencari cahaya, aku berusaha mencari sekilat cahaya lampu atau apapun, dan aku berusaha mencari Kyuhyun. Tapi semuanya masih gelap, seulas kain perban ini masih menutup mataku.

“Jangan bergerak, Rin. Oh iya, kau masih belum bisa melihat?” Hyun bertanya. Aku mengangguk lemah. Hyun sepertinya tersenyum. Tangannya membelai rambutku lagi. Tapi kali ini sedikit beda, biasanya dia dengan lugas membelaiku. Tapi kali ini kenapa sedikit terbata-bata?

“Tanggal 14 Maret baru bisa dibuka, sabar ya..” Hyun memberitahuku. Aku mengangguk lagi. Lambaian tangannya berhenti. “Aku harus pergi sekarang. Aku harus bekerja. Hati-hati ya, Rin..” Hyun bergegas. 

Ada apa dengan Kyuhyun? Kenapa tumben sekali dia cepat-cepat?
Rasanya aku ingin sekali melihat Hyun. Akhir-akhir ini Hyun seperti menjauhiku.. 
Apakah dia tak mau menikah denganku?
Dia kan sudah berjanji!

Ah.. tak tahulah!


*

**

14 Maret

“Kim Hye Rin.. Perbanmu sudah bisa dibuka!”

Suara senang suster terdengar. Aku tersenyum sambil memegang tangan Hyun yang memegang bahuku. Aku tak sabar melihat cahaya. Aku tak sabar melihat dunia. Aku tak sabar melihat Kyuhyun!

“Tunggu ya...”

Dengan hati-hati suster itu membuka perbanku. Aku menggigit bibir bawahku tanda tak sabar. Aku meremas tangan Hyun. Hyun diam saja. Aku jadi makin tidak sabar. Beberapa menit ini rasanya beberapa jam jika ditunggu dengan berdebar-debar.

“Ya! Sudah selesai! Bukalah matamu, Kim Hye Rin!”

Aku membuka mataku. Silau. Jadi ini yang namanya cahaya? Silau.
Aku membalikkan badanku. Aku ingin melihat Hyun untuk pertama kalinya. Aku menatap sepasang kaki. Kugerakkan kepalaku lebih ke atas. Lebih ke atas. Cho Kyuhyun.

..

Ternyata dia juga buta.
Aku tak percaya ini.

Aku merasa dibodohi. Kyuhyun yang mengajarkan dunia padaku, ternyata buta juga. Aku berkedip sekian kali. Tetap saja sosok itu yang berdiri di hadapanku. Aku hanya berharap ini bukanlah Cho Kyuhyun-ku. Aku berharap ini Cho Kyuhyun yang lain, bahkan aku tidak ingin menganggap manusia dihadapanku ini Cho Kyuhyun, Cho Kyuhyun manapun!

“Rin? Sudah bisa melihat?” Hyun tersenyum. Suara itu, benar. Cho Kyuhyun-ku. Rasanya aku tidak ingin hidup lagi. Aku tak mau menikah dengan orang ini! Dia membodohiku dengan mengajarkan dunia yang sebenarnya juga dia tidak tahu! Dia buta! Dia buta! Dia bukan Hyun! Dia pembual! Penjilat! Penipu!

“Kim Hye Rin? Kau masih mau menikah denganku?” tanya Hyun. Suaranya terdengar.. Menusuk telingaku. Aku benci Hyun! Aku tak mau menikah dengannya! Pembual!

“TIDAK! AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGAN ORANG BUTA PENIPU SEPERTIMU CHO KYUHYUN!!!! PEMBUAL! MENJIJIKKAN!!!!” aku berteriak kepadanya. Aku menahan air mataku yang sudah mendobrak untuk keluar. Hatiku sakit, memang. Tapi untuk apa aku menangis demi orang seperti ini?

Cho Kyuhyun terdiam. Matanya kosong. Berdetik-detik kemudian akhirnya dia tersenyum. Tangannya melambai memanggil suster untuk menggandengnya keluar.

Aku masih terus berusaha menahan air mataku, ketika Cho Kyuhyun buta, yang ditolong suster untuk berjalan karena tak bisa melihat, yang sudah berada di ambang pintu keluar kamar, berbalik menatapku, dan berkata sepatah kata perpisahan.





“Kim Hye Rin, tolong jaga mataku baik-baik.”



Cho Kyuhyun pergi keluar bersama suster. Meninggalkan diriku yang berdiri membatu.

Tanpa sadar mataku meraba mata baruku. Mata baruku, yang diberi oleh pendonor baik hati yang ternyata mantan kekasihku. Pendonor baik hati yang baru saja kutolak, yang baru saja kuumpat, yang baru saja.. Yang baru saja..



Air mataku akhirnya menetes.


==FIN==


***

COMMENTS please~

ini re-post dari Sujunesia..

[fanfic] At The End of My Violin Concert

At The End of My Violin Concert


“BRAVO!!!!”

Tepuk tangan kembali terdengar ketika ada orang yang menyerukan satu kata tadi. Aku tersenyum dan membungkuk ke arah penonton yang telah rela membuang uangnya untuk menonton resital violin-ku yang ketiga belas. Berbagai rasa sakit yang terasa di pundak, jari, sendi, leher dan pingsan beberapa kali ketika latihan seakan-akan terobati setelah resital ini.

Aku, Morimoto Ryutaro, memang anak yang mempunyai talent di bidang violin. Semua telah mengakuinya dan tak akan ada yang bisa memalingkan muka dari kenyataan itu.

**

“Ne, Ryutaro! Kau memang hebat!” Chinen Yuuri, manajerku yang amat dekat denganku bahkan sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, menepuk bahuku seperti biasa. Chinen ini sangatlah baik, mengerti keadaanku yang yatim piatu ini. Chinen jugalah guru violin pertamaku, dan partner duet pertamaku saat resital lagu Canon in D. Sayangnya meskipun dia 2 tahun lebih tua dariku, dia lebih pendek dariku. Sayang.

”Aw, Chinen! Bahuku sakit tahu!” aku memasang wajah cemberut karena memang bahuku sedang sakit akibat terlalu hot memainkan Caprice no.26 by Paganini yang sempat memutuskan senar E sebanyak 4 kali ketika latihan. “Oh iya, apa diagnosa dokter yang merawatku ketika aku pingsan 5 kali waktu itu?”

Wajah Chinen berubah kaget ketika aku bertanya hal itu. Aku tahu, pasti ada yang disembunyikan dariku. Dan Chinen tak mau hal itu mengganggu resital violinku. ”Ergh, kau tidak kenapa-kenapa kok! Kau hanya terkena tekanan darah rendah! Kau kan berlatih sangat keras waktu itu!” Chinen menjawab dengan raut wajah meyakinkan. Oke, kalau begitu. Tekanan darah rendah? Serendah apa memangnya sampai aku pingsan 5 kali?

**

”Ryu-ta-ro! Ini makan wortel dan apelnya! Hei! Paprikanya jangan disisihkan! Makan juga brokoli hijau yang ranum itu! Ini kuberi kau supelmen makanan supaya tak pingsan lagi nanti! Jangan lupa! Habiskan sup asparagus-mu itu!” Chinen banyak bacot pagi ini. Rasanya ketika aku bangun pada kali kelima aku pingsan dia masih santai-santai saja.. ”Oh iya! Kau harus latihan Concerto in A minor by Vivaldi, Humoresque by Dvorak, Maman by Mozart, Air in G String by Bach, Der Holle Racht Kocht in Meinem Herzen by Mozart, Canon in D 1st Violin, Minuet Boccherinni, Autumn-Spring-Winter Vivaldi juga! Oke ya, aku pergi dulu! Jyaa!” Chinen bacot sekali. Apa lagi itu? Aku harus belajar semua itu? Patahkan saja tanganku kalau begitu!! Capek tahu menggesek bow violin selama.. (5+6+5+4+5+5+6+30=67 menit!) 67 MENIT! Belum lagi diulang-ulang, namanya juga latihan!

Maunya Chinen apa sih? Kalau begini terus, aku malas menyentuh violin.

**

”Jadi bagaimana, dokter? Ryutaro tidak terkena penyakit laknat itu kan?”
“Maaf, tuan. Diagnosa rumah sakit kami selalu benar. Ryutaro memang terkena penyakit itu.”
“Sampai kapan kira-kira dia akan bertahan?”
“Karena penyakitnya sudah masuk stadium akhir, hidupnya tak akan lebih dari 6 bulan lagi.”
“6 BULAN LAGI? DOKTER! 6 bulan lagi itu konser pertamanya! Selama ini dia hanya menjadi bintang tamu resital! INI KONSER, DOKTER! Kenapa harus 6 bulan lagi??”
“Maafkan saya, tuan. Kanker itu sudah menggerogotinya. Pingsan 5 kali dalam seminggu itu sudah termasuk bukti yang paling kongkret. Mungkin ini juga karena kecapekan yang membuat kanker ini semakin cepat menggerogoti tubuh dari tuan Morimoto.”
“Jadi saya harus bagaimana, dokter?”
“Buat hidupnya senang dalam waktu 6 bulan ini. Oh iya, ini hasi; diagnosa otentiknya. Supaya anda percaya kalau kami tidak main-main mendiagnosa orang. Selamat siang.”


**

TOEENG!

”ERGH! Kenapa harus putus lagi?? Senar E pula!!! AAAAARRGGHHH!!!” aku mulai frustasi saat memainkan Winter Vivaldi. Tingkat kesulitan partitur ini sangat jauh di atas awan. Sedikit lebih sulit dari Caprice. Aku mengambil senar E dan mulai menyetemnya. Dan juga aku mengambil koyo ketiga dari kotak obat supaya sendi, bahu dan leherku tidak terlalu sakit.

”Tadaima...”
”Okaeri! Chinen! Tadi kau kemana saja?
”Kocchi! Kocchi! Aku punya kejutan!”

Hm? Tumben sekali Chinen punya kejutan untukku. Biasanya dia membawa kabar buruk untukku, ya?

”Ne Ryutaro.. Kau akan mendapat konser violinmu sendiri 6 bulan lagi!” err. WHAT? Aku tidak salah dengar, kan? My first violin concert.. Akhirnya.. setelah 13 kali hanya menjadi bintang tamu resital.. TUHAN! ”Senang kan?” Chinen tersenyum sambil beranjak memelukku. Aku menyambut pelukannya, meskipun jadinya terlihat aneh karena Chinen lebih pendek dariku. Adegan kami berpelukan terlihat seperti adegan kakak-adik yang sudah lama tidak bertemu lagi. Payah authornya. Suruh siapa cast-nya Chinen? Kenapa bukan Inoo? Kan dia lebih gentle! *author : AH! LO CHARA DISINI! JANGAN MACEM2! TERIMA JADI AJA LO DEH!* *ngelempar sepatu ke ryuu* *dibales* *berdarah* *nangis* *sadar harus bikin fic* *berenti nangis* *kembali melanjutkan cerita*

”Benarkah ini Chinen?” aku masih tidak percaya akhirnya ada orang yang mau membuatkan aku konser violin. Aku mau berlatih ah.. selama 6 bulan ini! Lagu yang tadi diberikan oleh Chinen juga akan aku tambah!

**
~6 MONTHS LATER~

”Upph..”

Oke, tinggal menunggu seminggu sampai konser violin pertamaku. Aku merasa senang, sekaligus aneh. 6 bulan ini aku semakin merasa tubuhku ini semakin menyebalkan. 6 bulan sudah tak terhitung lagi berapa kali aku pingsan. Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku jatuh dari tangga. Tak terhitung berapa kali aku kejang-kejang. Tapi baru kali ini aku tahu yang sebenarnya. Yang ditutup-tutupi oleh Chinen.

Kemarin, aku mencari rosin karena aku merasa bow-ku sudah licin. Sekalian juga aku mau mengambil senar A yang baru saja putus (lagi) . Aku mencari di seluruh rumah tapi tak ada, akhirnya aku memberanikan diri mencari di kamar Chinen. Saat aku masuk, pemandangan pertama adalah itu. File itu. Di atas tempat tidurnya yang rapi.

Surat diagnosa dokter. Yah, akhirnya aku tahu kalau hidupku tinggal seminggu. Pantas saja aku selalu pingsan, selalu jatuh, selalu kejang-kejang..

**

Hari H.
Aku sedari pagi sudah merasa kalau aku akan mati. Bahkan aku tak bisa jalan. Aku sekarang menggunakan kursi roda. Lusa kemarin aku jatuh dan langsung lumpuh. Yah, aku sih pasrah saja. Karena memang aku sudah yakin kalau sekarang aku mati. Sudah banyak tanda-tandanya. Wajahku pucat, lebih pucat dari cat tembok warna putih. Aku agak sulit mengatur nafasku. Pagi ini aku mimisan juga.

”Ryutaro.. Aku ingin berkata sesuatu padamu..” Chinen mulai angkat bicara ketika kami sudah sampai hall gedung. Pasti mau membicarakan itu.

”Aku sudah tahu semuanya. Aku senang kau menyembunyikannya, Chinen! Jadi kau tak perlu over-protective selama 6 bulan sila..”

”Ryutaro??!!”
Aku pingsan lagi, kawan!

**

”Ryutaro..”
“Ryuu?”
“Taro!”


”Ngggghhhh.....” aku bangun juga pada akhirnya. Yah, memang belibet sih, bahasanya. Salahkan author. Pada intinya, akhirnya aku sudah berdiri disini (bukan berdiri tepatnya, sambil duduk di kursi roda). Di panggung. Mengangguk ke arah penonton, dan mulai memainkan Humoresque nada dasar 5 mol.

Humoresque..
Der Holle Racht Kocht in Meinem Herzen..
Maman..
Autumn..
Winter..
Canon In D
Caprice no. 26
Lalo..
Concerto in A minor..
Minuet...


Spring. Partitur favoritku. Memainkan 2nd movementnya, aku sudah mulai mimisan. Pandanganku sudah mulai kabur. Chinen berlari ke arahku, tapi aku menggeleng ke arahnya dan tersenyum, sambil terus memainkan Spring. 1 bar terakhir, aku merasa kalau tubuhku terayun dan jatuh. Tersangga oleh kursi roda.

1 bar lagi, kawan. Dan aku, gugur?

Tidak. Aku tak mau. Aku harus menyelesaikan Spring ini.
Aku memaksa tanganku, mengayun bow sekali lagi, satu melodi lagi, meskipun dalam posisi tidak meyakinkan sekalipun..

..
Tamat. Selamat tinggal, semuanya.

“BRAVO!”

Suara Chinen.
Dan tepuk tangan hadirin.
Menutup hidupku.
Setidaknya aku pernah konser.


hehehe

coppas dari forum tercinta lets jump~~